Aksi Bela Palestina dan Sisi Lainnya No ratings yet.

Nahdliyin.id, – Pada Ahad (17/12) kemarin -puluhan, ratusan ribu bahkan jutaan umat- Islam Indonesia dari berbagai daerah berkumpul di sekitaran Monumen Nasional (Monas) Jakarta untuk menghadiri Aksi Bela Palestina yang digagas Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tujuannya satu yaitu menentang keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Peserta aksi juga menyerukan kebebasan dan kedaulatan bangsa Palestina dari pendudukan Israel.

Memang, pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu demo di banyak negara. Di Lebanon, Mesir, Turki, Maroko, Iran, Afghanistan, Ukraina, Jerman, Yordania, Indonesia, bahkan di Amerika Serikat juga digelar Aksi Bela Palestina. Mereka semua menyerukan agar Trump mencabut keputusannya tersebut dan Palestina mendapatkan kemerdekaannya.

Di Indonesia, Aksi Bela Palestina diikuti oleh umat Islam dari berbagai ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) –meski Ketua Umum PBNU melarang Nahdliyin menggunakan atribut NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Front Pembela Islam (FPI), Himpunan Ahlussunnah Untuk Masyarakat Islami (Hasmi), Al Wasliyah, Mathla’ul Anwar, Wahdah Islamiyah, Eks- Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan lain sebagainya. Selain berbasiskan ormas, peserta aksi juga berasal dari institusi tertentu seperti sekolah, majelis ta’lim, dan lainnya.

Tidak ketinggalan, para pesohor negeri ini juga hadir. Mulai dari selebriti, politisi, hingga pejabat negara. Jika dibandingkan dengan aksi-aksi bela sebelumnya, Aksi Bela Palestina lebih beragam pesertanya karena seluruh umat Islam memiliki ‘rasa yang sama’ terhadap isu yang diangkat ini. Yaitu membela dan mendukung Palestina.

Di era reformasi, aksi demonstrasi merupakan sebuah bentuk protes yang sudah menjadi common sense. Demonstrasi bisa dilakukan siapa saja ketika mereka merasa tidak sepakat dengan keputusan yang ada, baik yang berdampak langsung terhadap mereka ataupun tidak. Selama keputusan tersebut dirasa merugikan secara komunal, maka akan digelar demo. Termasuk demo yang digelar di berbagai negara –termasuk Indonesia- terhadap keputusan Trump.

Pada Aksi Bela Palestina di Indonesia, semua pimpinan ormas Islam yang hadir menyampaikan orasi. Inti dari orasinya sama yaitu mengecam dan menonak Trump serta berharap Palestina segera merdeka. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus demo? Kenapa tidak menggunakan jalur diplomasi lainnya? Dan seberapa efektif kah demo itu untuk menyelesaikan persoalan?

Kalau kita lihat, berkumpulnya ratusan ribu bahkan jutaan massa di Monas bisa disinyalir sebagai upaya unjuk kekuatan (show force) umat Islam. Dengan berkumpul, mereka ingin agar Donald Trump melirik mereka –setelah diliput berbagai media tentunya. Bahwa mereka umat Islam itu ada dan bersatu untuk menentang Keputusan Amerika Serikat. Bahkan, para pemimpin ormas yang berorasi ‘menggertak’ Amerika Serikat dengan mengajak umat Islam untuk memboikot produk-produk negeri Paman Sam itu manakala keputusan itu tidak dicabut.

Namun, lagi-lagi yang menjadi pertanyaan adalah apakah cara ini efektif? Atau hanya buang-buang energi saja? Wallahu ‘alam.

Yang terpenting, Aksi juga meminta pemerintah Indonesia untuk lebih aktif lagi dalam diplomasi membela Palestina. Ini yang lebih penting. Persoalan antar negara akan lebih efektif apabila diselesaikan dengan jalan diplomasi. Aksi di jalan penting, namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalur diplomasi.

Sisi lain

Selama meliput Aksi Bela Palestina kemarin, penulis menemukan sisi lain yang menarik dan cukup menjadi perhatian. Pertama, ajang narsisme dan eksistensi. Memang benar, peserta aksi berkumpul dan bersatu atas nama umat Islam. Namun di lapangan, setiap kelompok –baik ormas ataupun lembaga- membawa benderanya masing-masing. Lebih-lebih, mereka ber-swafoto-ria (selfie) dan mengunggahnya di media sosial. Seolah-olah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka ada dan hadir. Memang, tidak ada yang salah dalam hal ini.

Kedua, ajang rekreasi. Tidak semua peserta aksi menyimak apa yang disampaikan oleh pemimpin aksi dari panggung utama. Selama pemimpin aksi menyampaikan orasi, tidak sedikit dari peserta aksi yang ‘sibuk’ dengan kegiatannya sendiri. Berfoto-foto, jual-beli, ngobrol dan membuat forum sendiri, bahkan ada yang tidur. Ada juga yang menjadikan acara ini sebagai ‘ajang rekreasi’ bareng keluarga.

Ketiga, ajang kerja. Apa yang dikatakan Ketua Pelaksana Aksi Bela Palestina H Marsudi Syuhud bahwa siapa saja yang menolong Palestina maka akan mendapatkan berkah memang benar adanya, termasuk yang ada di sekitarnya (barokna haulahu).Penjual makanan, minuman, snack, lapak tempat duduk, bendera Palestina dan aksesoris ikat kepala serta bendera hitam bertuliskan syahadat laris manis. Seolah mereka mendapatkan berkah dari Aksi Bela Palestina.

Selain itu, acara aksi ini juga menjadi berkah tersendiri bagi para jurnalis, wartawan, fotografer, reporter, dan insan media lainnya. Di sini, mereka bisa mendapatkan berita dan gambar yang menarik dan variatif. Apa yang mereka tulis dan siarkan akan ditunggu dan dicari oleh publik. Aksi massa seperti ini tentu memiliki daya tarik tersendiri bagi publik.

Terlepas dari itu semua, kita semua mesti mengapresiasi Aksi Bela Palestina itu. Setidaknya ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia peduli dan simpati terhadap apa yang dialami Palestina. Sebuah negeri yang jauh nan di sana, tapi dekat di hati bangsa Indonesia.

A Muchlishon Rochmat 

Sumber: Nu.or.id

Please rate this

About Muhammad Hasan Bahtiar 606 Articles
Moderator

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.